Masa Pandemic, Bagaimana Siswa diDesa?
Saat ini Indonesia
sedang berada di masa pandemic, dimana seluruh kegiatan belajar mengajar
dihentikan, dan diganti dengan kegiatan belajar daring dari rumah?. Jujur ketika
peraturan ini diumumkan oleh pemerintah hal pertama yang saya pikirkan adalah
bagaimana nasibnya anak-anak di perdesaan yang tidak tersentuh oleh
perkembangan teknologi? Apa yang akan terjadi dengan mereka? bukankah belajar
daring pada akhirnya hanya bisa dinikmati oleh anak-anak dikota saja, semnetara
dihentikanya belajar mengajar berlaku untuk seluruh pelosok Indonesia.
Lalu saya
mulai mencoba membahas hal ini di social media, meminta teman-teman yang
sekiranya saat ini tinggal didesa dan melihat dengan jelas apa yang terjadi
dengan anak-anak didesanya. Apa sama seperti yang terjadi didesa saya, atau ada
hal luar biasa yang bisa dicontoh untuk pada akhirnya membuat anak-anak didesa
tetap bisa belajar walaupun tidak kesekolah. Dan ternyata tidak jauh berbeda
dengan apa yang saya lihat didesa saya, hampir semua anak di desa pada akhirnya
tidak mendapatkan pendidikan dimasa pandemic ini.
Berbeda dari
anak dikota yang setiap harinya diisi dengan mengerjakan tugas, atau kelas
online bersama guru mereka. anak-anak didesa menghabiskan waktu mereka ketika
masa pandemic ini dengan main di sungai, pergi dengan sepeda motor mengelilingi
desa, berkumpul dengan teman-temanya disuatu tempat atau sekedar membantu
pekerjaan orang tua yang pastinya mengalami keterpurukan ekonomi akibat masa pandemic
yang terus berlanjut.
Tapi,
dibalik itu semua lagi-lagi akan ada sosok guru yang luar biasa yang berharap
siswa mereka tetap mendapat pendidikan. Dari cerita yang di share oleh
teman-teman saya di social media saya mendapati cerita dimana Beberapa guru
datang kerumah siswa untuk meberikan materi pelajaran yang sudah mereka ketik
dan print, guru tersebut keliling dari satu rumah kerumah lainya untuk memberi
materi pelajaran itu, tidak hanya materi pelajaran saja tapi juga soal ujian
semester pun ikut di antar kerumah siswa masing-masing lalu setelah selesai
guru akan mejemputnya kembali. Kisah ini tak hanya dari satu teman saja akan
tetapi banyak teman saya yang mencertakanya dari setiap daerah. Bagi mereka itu
adalah bentuk tanggung jawab seorang guru.
Ibu saya
yang juga seorang guru di desapun melakukan hal yang sama, beliau keliling desa
mencari rumah siswanya untuk membagikan soal ujian akhir bagi kelas 6 SD. Tapi tidak
semua orang tua menghargai jerih payahnya, ketika tiba saatnya hasil ujian itu
harus dikumpul ada beberapa siswa yag mengatakan bahwa mereka belum selesia
mengerjakan, bahkan ketika ditagih terus menerus salah satu orang tua siswa mengatakan
bahwa sebenarnya tidak perlu ada ujian toh presiden sudah mengatakan bahwa
seluruh siswa harus diluluskan.
Rasa marah
bercampur sedih muncul dalam hati saya, saya marah kepada orang tua siswa tersebut
karena sama sekali tak menghargai susah payahnya ibu saya sebagai guru demi
anak mereka, tapi saya juga sedih karena sebatas inilah pemaham orang-orang di
desa, bagaimana anak-anak mereka nanti jika sifat orang tuanya saja tidak
mendukung mereka dalam pendidikan. Jadi dirasa wajar ketika anak-anak didesa
pada akhirnya dimasa pandemic ini hanya pergi main tanpa belajar bukan.
Kita tidak
pernah tau sampai kapan pandemic ini akan berakhir, saya jelas berdoa semoga
secepatnya semua kembali normal, minimal sekolah harus segera dibuka kembali
dengan aturan-aturan yang sudah direvisi nantinya. Anak-anak didesa harus
kembali bersekolah, mereka harus mengejar semua yang sudah tertinggal. Semoga kita
segera menemukan solusi yang terbaik bagi semuanya, pendidikan diindonesia
jelas belum merata maka peraturan tidak boleh diberikan secara menyeluruh,
harus ada aturan khusus bagi warga-warga didesa. Toh adil bukan berarti sama
kan, tapi bisa memberikan sesuai kebutuhan masing-masing J

Komentar
Posting Komentar